Ketika Allah memilih-mu menjadi pedagang, maka Allah sedang menjaga-mu dengan cara yang tidak semua orang paham. Tidak semua orang diberi keberanian untuk hidup dalam ketidakpastian, karena tidak semua hati mampu bertahan tanpa pegangan dunia. Maka ketika Allah menanamkan keyakinan dihatimu untuk berdagang, itu bukan kebetulan, tetapi pilihan ilahi yang mengundang pendidikan tauhid yang sangat dalam.
Banyak orang mengejar pangkat agar dihormati, mengejar jabatan agar dipandang dan mengejar gaji tetap agar dipandang, dan mengejar gaji tetap agar merasa aman. Namun Allah mengajarkan kepada pedagang bahwa penghormatan manusia tidak pernah menjamin, dan gaji tidak pernah menentukan nilai seorang hamba dihadapannya.
Pedanag hidup dengan risiko, tetapi justru dari sanalah letak kemulaiannya. Karena setiap hari di sana letak kemuliannya, karena setiap hari ia paksa untuk bertawakal dengan sungguh-sungguh, bukan sekedar ucapan. Ia bekerja dengan tangan, berdo'a dengan hati, dan menyerahkan hasil sepenuhnya kepada Allah tanpa jaminan dari siapa pun selama Rabb Semesta Alam.
Di dalam perdagangan, Allah mengumpulkan dua perkara besar sekaligus : sumber dosa dan sumber pahala. Maka tidak heran jika Allah memberi ancaman keras kepada pedagang yang curang, karena kerusakan dalam perdagangan akan merusak banyak jiwa. Namun di saat yang sama, Allah mengangkat derajat pedagang yang jujur setinggi-tingginya karena kejujuran di tengah godaan dunia adalah bentuk takwa yang paling nyata.
Tidak sedikit orang meremehkan pedagang karena tidak berpangkat, tidak berseragam, dan tidak bergaji tetap. Padahal mereka tidak menyadari bahwa pedagang sedang menjalani latihan keimanan setiap hari. Saat ia tetap jujur walau bisa curang, tetap amanah walau bisa mengambil lebih, dan tetap tunduk walau dunia memberinya banyak celah untuk berkhianat.
Sayyidah Khadijah Binti Khuwailid, wanita mulia yang dijamin surga, tidak menguatkan dakwa islam dengan jabatan, tetapi dengan harta perdagangan yang halal dan keimanan yang kokoh. Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam pun seorang pedagang , dan banyak sahabat nabi besar menopang islam dengan perdagangan mereka. Ini menjadi bukti bahwa berdagang bukan pekerjaan rendahan, tetapi mulia yang pernah dilalui orang-orang paling mulia.
Orang yang bergantung pada gaji akan merasa aman selama sistem masih ada, tetapi pedagang belajar tenang bahkan ketika tidak ada yang pasti, karena ketentramannya bukan pada sistem, malainkan pada Allah. Inilah perbedaan kelas yang tidak bisa dilihat dengan mata, tetapi sangat jelas di timbunan akhirat.
Bisnis mengajarkan bahwa hidup tidak pernah bisa dikendalikan sepenuhnya, dan justru di situlah manusia belajar rendah hati. Setiap keuntungan bisa hilang, setiap kerugianbisa datang. setiap kerugian bisa datang, dan setiap keputusan akan di minta pertanggungjawaban. Maka pedagang yang bertawa tidak pernah menyembah hasil, ia hanya taat dalam proses.
Jika ada orang yang hidup mengejar pehormatan manusia, maka ia akan lelah sepanjang umur. namun pedagang yang mengejar ridho Allah akan tetap tenang walau diremehkan, karena iat tahu nilainya tidak ditentukan oelh ucapan manusia, tetapi oleh penilaian Allahyang maha adil.
Pada akhirnya bisnis bukan tentang siapa yang paling kaya, tetapi siapa yang paling sekamat. Bukan tentang siapa yang paling dihormati di dunia, tetapi siapa yang paling diterima di akhirat. Dan jika Allah memilihmu untuk berdagang, maka bersyukurlah, kaena Allah sedang mengajarkan hidup dengan imanyang nyata, bukan iman yang hanya tinggal di Lisan.

Komentar
Posting Komentar